Hitstat

23 October 2017

Matius - Minggu 4 Senin

Pembacaan Alkitab: Kel. 3:14
Doa baca: Kel. 3:14
Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.


Yesus ialah nama pemberian Allah, sedangkan Imanuel ialah nama panggilan oleh manusia. Malaikat Gabriel memberi tahu Maria bahwa ia akan mengandung seorang anak laki-laki dan menamai Dia Yesus (Luk. 1:31). Kemudian Malaikat Tuhan menampakkan kepada Yusuf dan memberi tahu dia untuk menamai Anak itu Yesus (Mat. 1:21, 25). Jadi, Yesus ialah nama pemberian Allah.

Nama Yesus meliputi nama Yehova. Dalam bahasa Ibrani, nama “Allah” berarti Yang Perkasa, Allah Mahakuasa; dan nama Yehova berarti Aku adalah — Aku adalah Aku adalah (Kel. 3:14 Tl.). Arti Yehova yang benar ialah bahwa Aku adalah Aku adalah, Sang unik dalam waktu sekarang, dalam waktu lampau, dan dalam waktu yang akan datang serta dalam kekekalan selama-lamanya. Inilah nama Yehova. Dari kekekalan lampau sampai pada kekekalan kelak, adalah Aku ini. Karena itu Tuhan Yesus dapat mengatakan tentang diri-Nya, “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada” (Yoh. 8:58). Kita harus menyadari bahwa Yesus ialah Aku adalah yang agung itu dan percaya bahwa Dia ialah Aku adalah yang agung itu.

Unsur pertama yang termasuk dalam nama Yesus adalah Yehova. Kedua ialah Penyelamat. Yesus adalah Yehova Juruselamat, Sang Penyelamat yang menyelamatkan kita dari semua perkara negatif dan dosa-dosa kita, dari neraka, dari hukuman Allah, dan dari penghukuman kekal. Dia adalah Penyelamat. Dia menyelamatkan kita dari penghukuman Allah dan dari segala perkara yang kita benci. Kalau kita benci akan temperamen kita, Ia akan menyelamatkan kita dari temperamen kita. Ia menyelamatkan kita dari kekuasaan jahat setan, dari semua dosa yang merepotkan kita dalam kehidupan kita setiap hari, dan dari setiap belenggu serta kebiasaan jelek kita. Haleluya! Dialah Juruselamat.

Nama Yesus mengatasi segala nama (Flp. 2:9-10). Tidak ada nama yang setinggi dan seunggul nama Yesus. Tidak peduli Anda membenci Yesus atau mencintai-Nya, Anda bagi Dia atau melawan Dia, Anda harus tahu bahwa nama Yesus ialah nama istimewa. Sejarah memberi tahu kita bahwa selama dua ribu tahun yang lampau, setiap orang telah mengenal bahwa nama-Nya adalah nama yang tertinggi, nama yang luar biasa.

Pertama, nama Yesus adalah agar kita percaya ke dalam-Nya (Yoh. 1:12 Tl.). Kita semua harus percaya ke dalam nama Yesus. Ketika kita memberitakan Injil, kita harus membantu orang tidak hanya berdoa, tetapi juga memproklamirkan kepada seluruh alam semesta bahwa mereka percaya ke dalam nama Yesus. Ketika seorang dosa mau percaya Yesus, haruslah ia memproklamirkan, “Hari ini aku percaya ke dalam nama Yesus!”

Bagi kita, nama Yesus adalah yang olehnya kita diselamatkan (Kis. 4:12). Nama Yesus justru diberikan kepada kita agar kita dapat diselamatkan. Nama Yesus ialah nama yang menyelamatkan.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 6

21 October 2017

Matius - Minggu 3 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 1:23; 28:20
Doa baca: Mat. 28:20
Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.


Sang ajaib yang dilahirkan secara ajaib ini adalah Yehova. Tetapi Dia bukan hanya Yehova — Dia adalah Yehova dengan sesuatu yang lain. Sebutan Yesus artinya “Yehova Penyelamat (Juruselamat)” atau “keselamatan Yehova” (Mat. 1:21). Persona yang ajaib inilah keselamatan yang Yehova berikan kepada manusia. Dia sendiri itulah keselamatan. Karena Yehova sendiri menjadi karunia keselamatan, Dia itulah Sang Penyelamat.

Yesus merupakan nama yang ajaib karena Yesus itulah Yehova. Dalam Kejadian 1 kita tidak menemukan nama Yehova. Kita hanya menemukan nama Allah: “Pada mulanya Allah menciptakan ...” Elohim — Allah — adalah sebutan bagi Allah Pencipta. Nama Yehova, yang tidak digunakan hingga Kejadian 2, digunakan secara khusus ketika Allah berhubungan dengan manusia. Nama Yesus adalah sesuatu yang ditambahkan kepada Yehova — yaitu, Yehova keselamatan kita, Yehova Penyelamat kita.

Yesus itulah Yosua sejati (Bil. 13:16; Ibr. 4:8). Yosua dalam bahasa Ibraninya sama dengan Yesus. Musa membawa umat Allah keluar dari Mesir, tetapi Yosua yang membawa mereka ke dalam perhentian. Sebagai Yosua kita yang sejati, Yesus membawa kita ke dalam perhentian. Matius 11:28-29 memberi tahu kita bahwa Yesus adalah perhentian dan Dia mengajak kita memasuki diri-Nya sebagai perhentian. Ibrani 4:8-9 dan 11 juga membicarakan Yesus sebagai Yosua sejati kita.

Dalam 1:23 kita menjumpai nama ajaib yang lain — Imanuel. Imanuel adalah nama pemberian manusia kepada-Nya. Imanuel artinya “Allah menyertai kita.” Yesus Sang Juruselamat adalah Allah yang menyertai kita. Tanpa Dia, kita tidak mungkin menjumpai Allah; sebab Allah adalah Dia, dan Dia adalah Allah. Tanpa Dia, kita tidak akan menemukan Allah, sebab Dia adalah Allah sendiri yang berinkarnasi untuk tinggal di tengah-tengah kita (Yoh. 1:14).

Yesus ini, yang adalah Allah Yehova, dilahirkan dalam daging menjadi Raja untuk mewarisi takhta Daud (1:20; Luk. 1:27, 32-33). Injil Matius adalah sebuah kitab yang membahas kerajaan dan Kristus sebagai Rajanya, Mesiasnya. Ketika Anda menyeru Yesus, Anda mendapatkan Yehova, Juruselamat, keselamatan, Allah, dan akhirnya Raja. Sang Raja memerintah. Ketika kita menyeru Yesus, segera kita mendapatkan Dia yang berkuasa atas kita. Yesus, Sang Raja akan mendirikan Kerajaan-Nya di dalam Anda dan menyelenggarakan takhta Daud di dalam hati Anda. Semakin Anda menyeru Yesus, semakin pula ada kuasa pemerintahan. Serulah nama-Nya, pasti Anda akan diatur oleh kuasa-Nya.

Yesus adalah persona yang ajaib. Dia itu Yehova, Allah, Juruselamat, dan Raja. Sang Raja telah lahir, bahkan hari ini berada di sini. Setiap hari, pagi, dan sore, kita mengapresiasi Kristus sebagai Juruselamat kita, Raja kita, bahkan Raja di raja.

Kristus di dalam Injil Matius adalah Raja Penyelamat juga Juruselamat Raja yang mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita dan di atas kita. Matius 1 bukan sekadar menampakkan kepada kita asal usul Raja ini, tetapi juga memperlihatkan penyertaan Raja ini. Nama Raja ini ialah Yesus. Kapan saja kita menyeru nama-Nya, pasti kita merasakan bahwa Dia sedang berkuasa di dalam kita melalui penyela-matan-Nya. Ia mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita. Haleluya, inilah Kristus kita!



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 5

20 October 2017

Matius - Minggu 3 Jumat

Pembacaan Alkitab: Yoh. 3:14; Rm. 8:3
Doa baca: Rm. 8:3
Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sama seperti manusia yang berdosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.


Meskipun telah ada kuasa kedaulatan Allah, ketaatan Maria, dan kekuatan Roh Kudus, namun masih perlu ada ketaatan dan koordinasi Yusuf (ayat 19-21, 24-25). Apa yang akan terjadi seandainya Yusuf tetap menuntut untuk bercerai? Ia sedang merencanakan itu. Tetapi, dia adalah orang yang dipilih Allah bagi kelahiran Kristus. Sebab itulah ia tidak bersikap kasar dan terburu-buru; malahan ia menaruh banyak pertimbangan dan berkepala dingin. Saat itu Yusuf masih muda. Karena itu, saya ingin sekali mengambil kesempatan ini untuk berkata satu dua patah kata kepada kaum muda: Jangan mengambil keputusan terlalu cepat atau bertindak terlalu tergesa-gesa. Perlahanlah sedikit agar Tuhan memiliki kesempatan untuk masuk. Setidak-tidaknya, tangguhkanlah masalah ini semalam saja. Pada malam itu, malaikat akan datang dan berbicara kepada Anda. Ini telah terjadi pada Yusuf. Ketika ia sedang mempertimbangkan hal ini, malaikat Tuhan muncul kepadanya dalam mimpi (ayat 20). Yusuf pun menaati perkataan malaikat.

Kelahiran Kristus merupakan perwujudan besar atas nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama. Nubuat pertama dalam Perjanjian Lama ialah Kejadian 3:15, yaitu setelah kejatuhan manusia, setelah ular menggarapkan dirinya ke dalam manusia melalui perempuan. Dalam Matius 1:22-23 janji ini dipenuhi oleh seorang anak dara yang mengandung seorang anak. Anak ini adalah keturunan perempuan. Dalam Galatia 4:4 Paulus mengatakan bahwa Kristus dilahirkan di bawah hukum dan juga dilahirkan dari perempuan. Kristus datang bukan hanya menggenapkan hukum, bahkan menggenapkan janji tentang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular.

Memang sulit sekali menemukan sebuah ayat yang mengatakan bahwa Allah menjadi manusia. Yang Alkitab katakan adalah demikian: “Firman itu adalah Allah ... Firman itu telah menjadi daging” (Yoh. 1:1, 14 Tl.). Manusia itu istilah yang sopan, tetapi daging tidak. Dalam 1 Timotius 3:16 Paulus berkata, “Agunglah rahasia ... Allah menyatakan diri-Nya dalam daging”(Tl.). Meskipun daging bukanlah istilah yang baik, namun Alkitab mencantumkan bahwa Allah menampilkan diri dalam daging.

Kita adalah daging yang telah jatuh, dan Yesus datang ke dalam daging supaya Ia bisa membawakan Allah ke dalam manusia. Di dalam Dia, persona ilahi Allah telah dibaurkan dengan keinsanian. Kelahiran Kristus tidak hanya menghasilkan seorang Juruselamat, tetapi juga membawa Allah ke dalam manusia. Meskipun umat manusia telah jatuh, namun Allah sedikit pun tidak berbagian dalam sifat kejatuhan ini. Allah hanya mengenakan rupa daging yang telah jatuh, dan melalui ini Ia membaurkan diri-Nya dengan keinsanian. Kita tidak boleh memandang Yesus seperti orang pada umumnya. Kita harus menyadari bahwa Yesus adalah Allah yang berbaur dengan manusia yang telah jatuh, mengenakan rupa manusia, tetapi tanpa sifat dosa manusia. Inilah kelahiran Kristus.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 5

19 October 2017

Matius - Minggu 3 Kamis

Pembacaan Alkitab: Luk. 1:26-28, 38
Doa baca: Luk. 1:38
Kata Maria, "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.


Kelahiran Kristus dipersiapkan dan digenapkan berdasarkan kuasa kedaulatan Allah (1:18; Luk. 1:26-27). Berdasarkan kuasa kedaulatan-Nya, Allah menikahkan Yusuf dengan Maria untuk melahirkan Kristus sebagai pewaris sah atas takhta Daud. Pernikahan adalah sebuah misteri. Tidaklah mudah menyatukan dua orang, terutama mengenai kelahiran Kristus. Menyatukan Yusuf dan Maria itu bukanlah masalah yang sederhana. Menurut silsilah Kristus dalam Injil Matius, Yusuf adalah keturunan Zerubabel, seorang tawanan yang telah dipulangkan. Zerubabel, pemimpin suku Yehuda dan keturunan dari keluarga raja yang membawa para tawanan dari Babilon ke Yerusalem (Ezr. 2:2). Akhirnya, ia pun memimpin dalam membangun kembali Bait Suci (Ezr. 3:8; 5:2). Yusuf adalah keturunannya. Jika nenek moyang Yusuf dan Maria tetap di Babilon dan mereka dilahirkan di sana, bagaimana Yesus bisa dilahirkan oleh Maria di Betlehem? Kini kita dapat melihat kuasa kedaulatan Allah dalam hal mengembalikan para leluhur Yusuf dan Maria.

Berdasarkan kuasa kedaulatan-Nya, Allah menempatkan Yusuf dan Maria di dalam satu kota, yakni Nazaret (Luk. 1:26; 2:4). Yusuf dan Maria bukan hanya keturunan dari tawanan-tawanan yang dipulangkan, malahan hidup di kota kecil yang sama. Ini memungkinkan mereka berdekatan dan menikah.

Lebih lanjut lagi, ketika kita memeriksa silsilah-silsilah dalam Matius dan Lukas, kita akan menemukan bahwa Yusuf adalah keturunan dari garis raja, garis Salomo (ayat 6-7), sedang Maria adalah keturunan garis kaum awam, garis Natan (Luk. 3:31). Meskipun Yusuf dan Maria menikah, namun Yesus dilahirkan dari Maria, bukan dari Yusuf. Kelihatannya dari luar Dia dilahirkan dari Yusuf, padahal dari Maria (1:16). Hal ini mutlak merupakan kuasa kedaulatan Allah.

Berdasarkan pengaturan kedaulatan ini, Yesus merangkap sebagai orang biasa, juga sebagai pewaris takhta raja. Inilah alasannya Dia memiliki dua silsilah, yang satu di dalam Lukas, yang menjelaskan status-Nya yang awam, sedang yang lain di dalam Matius, menjelaskan status raja-Nya. Status-Nya yang awam berasal dari Maria, sedangkan status raja-Nya berasal dari Yusuf. Demikianlah Yesus dilahirkan berdasarkan kuasa kedaulatan Allah. Tidak seorang pun di antara kita yang dilahirkan di bawah kuasa kedaulatan semacam ini. Hanya Yesus semata yang mempunyai syarat menikmati pengaturan kedaulatan serupa ini.

Menurut Lukas 1:26-28, kelahiran Kristus terjadi melalui ketaatan Maria. Di sini saya ingin menyampaikan sepatah kata kepada kaum muda. Bagi seorang perempuan muda seperti Maria alangkah sulitnya untuk menerima amanat mengandung seorang anak. Membaca catatan ini memang mudah. Namun, seandainya seorang saudari muda di antara kita menerima amanat seperti itu malam ini, bisakah ia menerimanya? Ini bukan masalah yang tanpa arti. Tetapi setelah mendengar kata-kata malaikat, Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Ini kelihatannya sederhana, tetapi harganya sangat tinggi. Untuk melahirkan Kristus, Maria telah membayar harga yang sangat tinggi — harga atas seluruh dirinya. Melahirkan Kristus tidaklah mudah, tidaklah murah. Kalau kita mau melahirkan Kristus, kita harus membayar harga. Maria telah membayar harga.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 5

18 October 2017

Matius - Minggu 3 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 1:18
Doa baca: Mat. 1:18
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri.


Kini kita meninjau Maria, anak dara itu (1:16). Sebagai seorang gadis, ia berbeda dengan keempat perempuan lain yang termuat dalam silsilah ini. Maria sangat polos, murni, dan unik. Ia mengandung dari Roh Kudus, bukan dari seorang laki-laki, dan melahirkan Kristus (Luk. 1:34-35; Mat. 1:18b, 20b). Kisah keempat perempuan yang telah menikah lagi atau berdosa ini dan seorang anak dara membuktikan bahwa semua orang yang termuat dalam silsilah ini dilahirkan dari dosa, kecuali Kristus yang dilahirkan dalam kekudusan.

Abraham, Daud, dan Maria merupakan tiga nama yang menyenangkan di dalam Alkitab, nama-nama yang manis di telinga Allah (ayat 2, 6, 16). Abraham hidup oleh iman, Daud mewakili hidup di bawah penanggulangan salib, dan Maria mewakili hidup yang mutlak berserah kepada Tuhan. Melalui tiga macam hidup inilah Kristus dilahirkan ke dalam keinsanian.

Ayat 17 menyebutkan tiga kelompok dari empat belas generasi. Angka empat belas terdiri dari sepuluh ditambah empat. Empat melambangkan makhluk ciptaan. Angka sepuluh melambangkan kesempurnaan. Angka empat belas melambangkan makhluk-makhluk yang sempurna. Tiga kali empat belas generasi menandakan bahwa Allah Tritunggal sendiri berbaur dengan makhluk ciptaan yang sempurna. Ini sangat bermakna. Persona Allah Tritunggal adalah Bapa, Putra, dan Roh. Silsilah ini dibagi menjadi tiga bagian: bagian para leluhur, bagian raja-raja, dan bagian orang biasa (termasuk para tawanan dan para terpulih). Allah Bapa berhubungan dengan bagian leluhur, Allah Putra berhubungan dengan bagian raja-raja, dan Allah Roh berhubungan dengan bagian orang biasa. Sungguh ajaib! Jadi, tiga kali empat belas berarti perbauran Allah Tritunggal dengan makhluk ciptaan-Nya. Pencantuman leluhur Kristus ini menandakan perbauran Allah Tritunggal dengan makhluk-makhluk ciptaan.

Tiga kali empat belas sama dengan empat puluh dua. Empat puluh adalah angka pencobaan, penggodaan, dan penderitaan (Ibr. 3:9; Mat. 4:2; 1 Raj. 19:8). Kristus adalah generasi yang keempat puluh dua. Empat puluh dua melambangkan peristirahatan dan kepuasan setelah pencobaan. Bilangan 3:5-48 menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang Israel menempuh perjalanan melalui empat puluh dua tempat (persinggahan) sebelum mereka masuk ke tanah permai Kanaan. Mereka dicobai, digoda, dan diuji. Mereka tidak pernah beristirahat. Namun, setelah selesai melewati empat puluh dua persinggahan, mereka masuk ke dalam perhentian. Dalam Wahyu 13, kita nampak ada empat puluh dua bulan, yakni tiga setengah tahun. Keempat puluh dua bulan ini akan merupakan bagian terakhir daripada tujuh tahun terakhir, yaitu minggu terakhir yang disebutkan dalam Daniel 9:24-27. Separuh yang kedua dari tujuh tahun terakhir ini, sepanjang empat puluh dua bulan ini, akan terjadi kesusahan besar, bahkan sangat menakutkan. Di sana ada banyak pencobaan, ujian, godaan, serta penderitaan. Namun, ketika empat puluh dua bulan ini telah genap, kerajaan akan tiba dan ada perhentian. Dari Abraham sampai Maria merupakan zaman penderitaan, ujian, dan godaan. Setelah semua generasi pencobaan, godaan, dan penderitaan, Kristus muncul sebagai generasi keempat puluh dua yang menjadi perhentian yang sempurna dan kepuasan yang penuh.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 4

17 October 2017

Matius - Minggu 3 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 1:16
Doa baca: Mat. 1:16
Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.


Tanpa kembali dari pembuangan sebagai tawanan, Kristus akan mustahil dilahirkan di Betlehem. Perjanjian Lama dengan pasti menubuatkan bahwa Kristus, sebagai keturunan Daud, akan dilahirkan di Betlehem (Mat. 2:4-6; Mi. 5:1). Seandainya tidak ada seorang pun umat Israel kembali ke Yehuda, dan saat Kristus dilahirkan di Betlehem tiba, niscaya tidak ada seorang pun di sana. Kini kita mengerti mengapa Allah memerintahkan tawanan-tawanan agar kembali. Allah menyuruh tawanan-tawanan itu pulang bukan hanya untuk membangun kembali Bait Suci, tetapi juga untuk persiapan bagi Kristus dilahirkan di Betlehem.

Silsilah di sini berbunyi, “Yakub mempunyai anak, Yusuf” (ayat 16), tetapi Lukas 3:23 mengatakan, “Yusuf, anak Eli.” Putra siapakah Yusuf? Menurut Lukas dicantumkan “menurut hukum” (terjemahan harfiah dari “menurut anggapan orang” dalam Lukas 3:23). Ini berarti bahwa Yusuf sebenarnya bukan putra Eli, melainkan dianggap sebagai putra-nya berdasarkan hukum. Yusuf adalah menantu Eli, ayah Maria. Mungkin ini merupakan perkara menurut Bilangan 27:1-8 dan 36:1-12, yang di dalamnya tercantum peraturan Allah, jika ada orang tua yang hanya mempunyai anak perempuan sebagai ahli warisnya, warisan itu akan dijatuhkan ke atas anak perempuan itu, yang kemudian harus menikah dengan laki-laki dari suku yang sama, demi menjaga warisan mereka tetap pada suku itu. Sekarang kita jelas bahwa ini bukan sekadar catatan terhadap peraturan tertentu; ini merupakan perkara yang berkaitan dengan Kristus, karena anak dara yang melahirkan Kristus itu memiliki catatan yang demikian. Kita percaya bahwa orang tua Maria tidak mempunyai anak laki-laki, sehingga Maria mewarisi warisan dari orang tuanya dan menikah dengan Yusuf, seorang laki-laki dari suku yang sama, yakni suku Yehuda. Bahkan peraturan dalam Bilangan 27 dan 36 pun berkaitan dengan silsilah Kristus. Baik secara langsung maupun tidak langsung, seluruh Alkitab merupakan tulisan tentang Kristus.

Pada butir ini, silsilah ini tidak mengatakan “Yusuf mempunyai anak, Yesus”, seperti yang disebutkan pada orang-orang terdahulu; melainkan mengatakan “Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus” (ayat 16). Yesus dilahirkan oleh Maria, bukan oleh Yusuf; karena sudah dinubuatkan bahwa Kristus akan menjadi keturunan perempuan dan akan dilahirkan oleh seorang dara (Kej. 3:15; Yes. 7:14). Kristus tidak mungkin dilahirkan oleh Yusuf, karena Yusuf adalah laki-laki dan juga keturunan Yekhonya. Tidak ada satu pun keturunan Yekhonya yang dapat mewarisi takhta Daud (Yer. 22:28-30). Jika Kristus dilahirkan dari Yusuf, niscaya akan dikesampingkan dari takhta Daud. Namun, Maria adalah perawan dan keturunan Daud (Luk. 1:27, 31-32); sebagai orang yang demikian, dia adalah orang yang tepat untuk melahirkan Kristus. Pernikahan Yusuf dan Maria membawa Yusuf ke dalam hubungan dengan Kristus dan menyatukan dua garis silsilah Kristus untuk mendatangkan Kristus.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 4

16 October 2017

Matius - Minggu 3 Senin



Pembacaan Alkitab: Mat. 1:6
Doa baca: Mat. 1:6
Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria.


Matius 1:6 mengatakan, “Daud mempunyai anak, Salomo.” Bandingkan kalimat ini dengan ungkapan yang berbunyi, “Natan, anak Daud” (Luk. 3:31). Bila kita membaca 1 Tawarikh 3:5, jelas bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda. Catatan Lukas adalah silsilah Natan, putra Daud, yang adalah leluhur Maria; sedangkan catatan Matius adalah silsilah Salomo, putra Daud, yang adalah leluhur Yusuf. Satu silsilah adalah garis Maria, garis istri; yang lain adalah garis Yusuf, garis suami. Maria dan Yusuf adalah keturunan Daud, tetapi mereka diturunkan dari dua keluarga yang berasal dari leluhur yang sama. Yang satu keluarga Salomo, yang lain keluarga Natan. Di bawah kedaulatan Allah, Maria dan Yusuf — keturunan dari dua keluarga ini, bertunangan dan melahirkan Kristus. Kristus terhitung sebagai keturunan Daud melalui Salomo dan Natan. Inilah sebabnya Dia mempunyai dua silsilah.

Kita maju terus ke Rehabeam, anak Salomo (ayat 7). Mulai dari Rehabeam, kerajaan Daud terpecah (1 Raj. 11:9-12; 12:1-17). Dari kedua belas suku, satu suku diberikan karena Daud (1 Raj. 11:13), yaitu karena Kristus. Kristus memerlukan kerajaan yang menjadi milik keluarga Daud, karena Dia harus terlahir sebagai pewaris takhta Daud. Apabila seluruh kerajaan hancur luluh, niscaya tidak ada apa pun yang tersisa bagi Kristus untuk dilahirkan sebagai pewaris kerajaan Daud.

Ayat 8, “Yoram mempunyai anak, Uzia.” Matius tidak menyebutkan tiga generasi yang terdapat dalam 1 Tawarikh — Ahazia, Yoas, dan Amazia. Ini tentu dikarenakan pernikahan yang jahat antara Yoram dengan anak perempuan Ahab dan Izebel yang merusak keturunan Yoram (2 Taw. 21:5-6; 22:1-4). Ahab adalah raja dari kerajaan utara, sedangkan Izebel istrinya adalah seorang perempuan jahat yang sepenuhnya berhubungan dengan berhala-berhala. Ia bersatu dengan Iblis, dan merusak suaminya. Mereka melahirkan seorang putri, dan Yoram, salah seorang raja dari raja-raja Yehuda, menikahi dia. Perempuan ini mengajar Yoram untuk menyembah kepada berhala-berhala, menjadi satu dengan berhala-berhala. Akibat-nya, keluarga mereka dirusak. Berdasarkan Keluaran 20:5, tiga generasi dari keturunan Yoram dikesampingkan dari silsilah Kristus. Keluaran 20:5 memberitahukan bahwa orang yang meninggalkan Allah dan menyembah kepada berhala-berhala akan merusak dirinya dan akan mendapatkan kutukan Allah sampai tiga atau empat keturunan. Sebab itu, tiga generasi dari Raja Yoram telah dikesampingkan dari silsilah Kristus. Di sini kita wajib mempelajari satu pelajaran. Jika kita mau terkait dengan Kristus, sekali-kali tidak boleh melibatkan diri dengan barang yang ada hubungannya dengan berhala-berhala. Allah itu pencemburu dan Dia tidak akan pernah bertoleransi terhadap penyembahan berhala.

Yekhonya tidak dianggap sebagai raja dalam silsilah ini karena dia dilahirkan dalam pembuangan dan berstatus tawanan (2 Taw. 36:9-10, Yoyakin adalah Yekhonya). Menurut nubuat dalam Yeremia 22:28-30, tidak ada keturunan Yekhonya yang mewarisi takhta Daud. Seluruh keturunannya disingkirkan dari takhta Daud. Jika Kristus adalah keturunan langsung dari Yekhonya, Ia tidak akan bersyarat mewarisi takhta Daud. Meskipun Yeremia 22:28-30 mengatakan bahwa semua keturunan Yekhonya disingkirkan dari takhta Daud, tetapi pasal selanjutnya ayat 5 mengatakan bahwa Allah akan menumbuhkan tunas bagi Daud, seorang raja yang akan memerintah dan semarak. Tunas ini adalah Kristus. Nubuat ini menegaskan bahwa walaupun Kristus bukan keturunan langsung dari Yekhonya, tetapi Ia adalah keturunan Daud, akan mewarisi takhta Daud.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 4