Hitstat

14 December 2017

Matius - Minggu 11 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:1-18
Doa baca: Mat. 6:1
Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.


Melakukan kebenaran dalam Matius 6:1 menyatakan perbuatan benar, seperti memberi sedekah (ayat 2-4), berdoa (ayat 5-15), dan berpuasa (ayat 16-18). Memang benar ayat-ayat ini membicarakan perbuatan benar umat kerajaan. Namun sebenarnya ayat-ayat ini menyingkapkan diri (ego) dan daging. Di dalam kita ada sesuatu yang lebih buruk daripada amarah dan hawa nafsu. Banyak orang Kristen bahkan tidak tahu betapa buruknya ego dan daging. Dalam kedelapan belas ayat ini Tuhan menggunakan tiga ilustrasi: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa — untuk mewahyukan betapa kita ini dipenuhi dengan ego dan daging.

Daging manusia mencari kemuliaan bagi diri sendiri, selalu ingin melakukan perbuatan baik di hadapan manusia untuk mendapatkan pujian manusia. Tetapi umat kerajaan, yang hidup dalam roh yang dikosongkan, merendah, serta berperilaku dalam hati yang murni dan tidak bercabang di bawah pengaturan surgawi dan kerajaan, tidak dibolehkan melakukan apa pun di dalam daging untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi harus melakukan segala hal di dalam roh untuk menyenangkan Bapa Surgawi mereka.

Mengenai tiga ilustrasi ini Tuhan menggunakan kata “tersembunyi” dalam tiap-tiap ilustrasi (ayat 4, 6, 18). Kita harus melakukan perbuatan benar kita secara tersembunyi, sebab Bapa kita tersembunyi. Dalam ayat 4 Tuhan mengatakan bahwa Bapa kita melihat segala sesuatu yang tersembunyi. Umat kerajaan, sebagai anak-anak Bapa Surgawi, harus hidup dalam hadirat Bapa dan memperhatikan kehadiran Bapa. Apa pun yang mereka lakukan secara tersembunyi untuk Kerajaan Bapa, dilihat secara tersembunyi oleh Bapa dan Dia akan membalasnya. Bapa surgawi mereka melihat secara tersembunyi. Hal ini merupakan suatu pendorong bagi perbuatan benar mereka di tempat yang tersembunyi. Ini mungkin terjadi dalam zaman ini (2 Kor. 9:10-11), atau sebagai upah (pahala) dalam zaman yang akan datang (Luk. 14:14).

Jadi, prinsip dasar kita sebagai umat kerajaan dalam melakukan perbuatan benar ialah tidak memamerkan diri kita. Sedapat mungkin, sembunyikanlah diri Anda, tutupilah diri Anda, dan lakukanlah segala kebajikan yang tersembunyi. Hendaklah kita tersembunyi sedemikian rupa sehingga tak ubahnya seperti yang Tuhan Yesus katakan, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (ayat 3). Ini berarti kita tidak boleh memberi tahu orang lain apa yang sedang kita lakukan. Umpamanya, Anda berpuasa tiga hari, janganlah memburukkan rupa Anda dengan menunjukkan air muka yang sedih. Sebaliknya, berilah kesan kepada orang lain bahwa Anda ti-dak berpuasa sehingga puasa Anda tersembunyi. Jangan berpuasa di hadirat manusia, tetapi secara tersembunyi di hadirat Bapa Surgawi. Berbuat demikian berarti membunuh ego dan daging.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 21

13 December 2017

Matius - Minggu 11 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:48
Doa baca: Mat. 5:48
Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.


Roma 8:16 menunjukkan bahwa roh kita yang di dalamnya kita berperilaku demi genapnya tuntutan kebenaran hukum Taurat dibentuk dari kesaksian Roh Kudus dengan roh kita. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus Allah telah masuk ke dalam roh kita. Ini terjadi pada saat kelahiran kembali kita. Roh Allah masuk ke dalam roh kita untuk melahirkan kita kembali. Sejak saat itu, Roh Kudus bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Karena itulah, ayat 14 mengatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”

Kita ini bukan hanya ciptaan Allah, tetapi juga anak-anak-Nya yang dilahirkan kembali yang memiliki hayat dan sifat-Nya. Jadi, kita bukanlah ciptaan Allah yang coba-coba mencontoh dan menirukan Dia, kita ini adalah anak-anak Bapa yang hidup berdasarkan hayat Bapa. Bagaimana kita menjadi anak-anak Allah? Melalui masuknya Roh Allah ke dalam roh kita untuk melahirkan kita kembali dan untuk menjadikan roh kita tempat kediaman Allah sendiri (Ef. 2:22). Di sini, di dalam roh kita, kita telah menjadi anak-anak Allah yang mempunyai hayat dan sifat Allah. Jika kita hidup (berjalan) menurut roh yang dilahirkan kembali, kita adalah anak-anak Allah, yang hidup berdasarkan hayat Allah. Bila kita hidup dan berperilaku di dalam roh, dengan spontan kita akan menjadi sempurna seperti Bapa kita yang di surga sempurna.

Kini kita dapat mengerti mengapa dalam Matius 5 Tuhan menyebut kita sebagai anak-anak Allah atau putra-putra Allah. Dia tidak berbicara kepada orang-orang yang tidak percaya, kepada mereka yang hanya ciptaan Allah, tetapi Ia berbicara kepada anak-anak Allah. Allah tidak lagi hanya Pencipta kita, Dia pun Bapa kita yang di surga. Karena Dia adalah Bapa kita, maka kita mempunyai hayat dan sifat-Nya. Pada akhirnya, melalui pertumbuhan kita dalam hayat, kita akan menjadi sama seperti Dia. Tunggulah suatu saat lagi, Anda akan nampak bahwa banyak di antara kita akan menjadi sempurna seperti Bapa yang sempurna.

Mungkin ada orang bertanya-tanya bagaimana murid-murid di atas gunung dapat dilahirkan kembali. Bukankah Roh pemberi-hayat belum masuk ke dalam mereka, bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa murid-murid itu telah dilahirkan kembali? Ingatlah bahwa tidak ada unsur waktu di dalam Allah; sebaliknya hanya ada prinsip. Ketika Tuhan Yesus berkata-kata dengan murid-murid di atas gunung, mengumumkan kepada mereka konstitusi kerajaan, Ia mengatakan menurut prinsip, bukan menurut unsur waktu. Allah tidak memiliki unsur waktu, Dia mengerjakan sesuatu sekali untuk selamanya. Dalam pikiran kita terdapat perkara sebelumnya dan sesudahnya, tetapi dalam pikiran Allah tidak ada. Memang benar, pada suatu hari Kristus menggenapkan karya penebusan di atas salib, dan pada suatu hari Roh pemberi-hayat “terjadi”. Tetapi dalam pandangan Allah sulit untuk menentukan kapan perkara-perkara ini terjadi, sebab dalam ekonomi Allah kedua-duanya adalah kekal. Baik salib maupun Roh pemberi-hayat adalah kekal. Karena murid-murid di atas gunung telah percaya dalam Tuhan Yesus dan telah berketetapan untuk mengikuti Dia, pada prinsipnya, mereka telah dilahirkan kembali, dan Tuhan memperhitungkan mereka sebagai umat yang telah dilahirkan kembali.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 20

12 December 2017

Matius - Minggu 11 Selasa

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:3-4
Doa baca: Rm. 8:4
Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.


Setelah membaca semua tuntutan ini, kita semua akan mengatakan bahwa kita sama sekali tidak mungkin menggenapi tuntutan-tuntutan ini. Selanjutnya kita melihat ayat 48 yang memberi tahu kita bahwa kita harus sempurna sama seperti Bapa yang di surga adalah sempurna. Ayat ini merupakan bukti bahwa kita mempunyai hayat dan sifat Bapa di dalam kita. Kita dilahirkan oleh Dia dan kita adalah anak-anak-Nya yang memiliki hayat dan sifat-Nya. Kita tidak perlu meniru Dia atau mencontoh-Nya. Asalkan kita bertumbuh dalam hayat-Nya, kita akan sama seperti Dia. Jadi, semua tuntutan hukum Taurat Kerajaan Surga mewahyukan berapa banyaknya hayat dan sifat ilahi ini dapat melakukannya bagi kita. Kita hanya perlu disingkapkan agar kita melepaskan semua pengharapan atas diri kita. Jika kita telah disingkapkan, kita akan menyadari bahwa hayat alamiah kita tidak ada harapan. Kemudian, kita akan mengesampingkan hayat alamiah kita, seraya berpaling kepada hayat Bapa kita dan menetap di dalam sifat ilahi. Dengan spontan, hayat ini akan bertumbuh di dalam kita dan menggenapi tuntutan hukum Taurat yang tertinggi ini. Apa yang kita butuhkan hari ini ialah kembali ke roh kita dan hidup di dalam roh kita. Bila kita berbuat demikian, kita hidup berdasarkan hayat dan sifat Bapa kita, kemudian dengan spontan kita menggenapi tuntutan kebenaran hukum Taurat. Memahami hal ini sangatlah penting bagi kita, sebab sama sekali berbeda dengan konsepsi alamiah kita.

Dari pengalaman, saya dapat bersaksi bahwa hari ini saya tidak berada di bawah prinsip hukum Taurat. Haleluya saya berada di bawah prinsip iman dan saya mempunyai hayat Bapa surgawi di dalam saya! Hayat ini tidak lain adalah Putra terkasih Bapa. Kini saya hidup berdasarkan hayat ini di dalam roh saya dan hidup menurut roh. Dengan adanya hayat ini di dalam roh saya, dengan spontan saya mampu menggenapi tuntutan tertinggi hukum Taurat Kerajaan Surga. Ini bukan berarti saya congkak, melainkan inilah kesaksian kerendahan hati saya untuk memuliakan Tuhan. Ini juga tidak berarti bahwa saya mampu berbuat segala sesuatu, melainkan Dia sajalah yang mampu, sebab Dia di dalam saya sebagai hayat saya. Dia pun mampu berbuat hal yang sama di dalam Anda dan bagi Anda. Agar hal ini menjadi pengalaman Anda, Anda perlu visi bahwa hayat alamiah Anda tidak berpengharapan. Setelah seluruh hayat alamiah Anda digali keluar dan disingkapkan, Anda akan menyadari bahwa alamiah merupakan suatu hal yang tidak berpengharapan, sehingga Anda tidak lagi mengandalkannya, Anda harus berpaling kepada hayat dan sifat ilahi Bapa di dalam Anda. Berpalinglah kepada hayat Bapa, tinggal bersama hayat Bapa dan hidup berdasarkan hayat Bapa. Anda dapat dengan mudah berpaling kepada hayat Bapa, sebab pada saat ini ia berada dalam roh Anda. Semata-mata hidup menurut roh Anda, semua tuntutan kebenaran hukum Taurat akan tergenapi di dalam Anda.

Karena kelemahan daging kita, kita tidak mungkin menggenapi hukum Taurat. Kita tidak dapat berbuat apa pun. Kapan saja kita menghadapi hukum Taurat, kita tidak berkutik. Karena itu, Allah mengutus putra-Nya sendiri dalam rupa tubuh daging yang berdosa dan menghakimi dosa dalam daging sehingga “tuntutan hukum Taurat dige-napi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (Rm. 8:4). Karena ketidakmampuan yang disebabkan oleh kelemahan tubuh daging kita, maka Allah telah mengutus Putra-Nya untuk menaati hukum Taurat di aspek positif dan mati untuk kelemahan kita di aspek negatif, agar tuntutan hukum Taurat terpenuhi. Tujuan-Nya berbuat demikian ialah agar tuntutan kebenaran hukum Taurat dapat digenapi di dalam kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 20

11 December 2017

Matius - Minggu 11 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:17
Doa baca: Mat. 5:17
Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.


Untuk memahami masalah hukum Taurat ini, kita harus mengenal tiga aspek dari hukum Taurat: prinsip hukum Taurat, perintah hukum Taurat, dan ritual (tata cara) hukum Taurat. Jika Anda tidak membedakan antara ketiga hal ini, Anda tidak akan mempunyai pengertian yang tepat tentang hukum Taurat. Sebagaimana telah kita nampak, prinsip hukum Taurat telah berlalu. Hari ini dalam zaman anugerah (kasih karunia), Allah tidak memperlakukan kita berdasarkan prinsip hukum Taurat, sebaliknya Ia memperlakukan kita berdasarkan prinsip iman (kepercayaan). Apakah kita akan dibenarkan, diselamatkan, dan diterima oleh Allah tergantung pada prinsip iman, bukan prinsip hukum Taurat. Asalkan kita percaya kepada Kristus, kita dibenarkan oleh Allah, diterima oleh Dia, dan diselamatkan. Inilah yang dimaksud dengan terhapusnya prinsip hukum Taurat dalam Kristus di bawah zaman anugerah.

Sekalipun prinsip hukum Taurat telah dihapus, namun perintah hukum Taurat belum ditiadakan. Sebaliknya taraf perintah ini telah ditingkatkan. Jadi perintah yang menyangkut standar moral belum dilenyapkan, melainkan akan tetap ada sampai kekal. Bahkan sampai pada kekekalan kita tidak boleh menyembah berhala, membunuh, mencuri, atau berdusta. Dalam Kerajaan Surga-Nya Sang Raja telah meningkatkan taraf hukum Taurat dalam dua cara: dengan menyempurnakan hukum Taurat yang lebih rendah, dan menggantikannya dengan hukum Taurat yang lebih tinggi. Dengan demikian moralitas dalam perintah hukum Taurat telah ditingkatkan ke taraf yang lebih tinggi.

Juruselamat Rajani sendiri menjalani semua perintah hukum Taurat ketika Ia berada di bumi. Kemudian Ia pergi ke salib untuk mati bagi kita. Melalui kematian penggantian-Nya, Ia menggenapi hukum Taurat pada aspek yang negatif. Tidak hanya demikian, melalui kematian penggantian-Nya, Ia membebaskan hayat kebangkitan-Nya ke dalam kita, sehingga kini kita memiliki hayat kebangkitan di dalam roh kita. Karena kita dapat hidup berdasarkan hayat kebangkitan ini, maka kita mempunyai tenaga, kekuatan untuk memiliki moralitas taraf tertinggi. Jika kita hidup menurut roh (Rm. 8:4), kita menggenapi tuntutan (permintaan) kebenaran hukum Taurat, bahkan menggenapi lebih daripada tuntutan hukum Taurat. Karena itu, kita bukan menghapus hukum Taurat sebaliknya kita menggenapinya dengan cara tertinggi.

Aspek ketiga hukum Taurat ialah ritual (tata cara) hukum Taurat. Sebagai contoh: mempersembahkan kurban persembahan dan memelihara hari Sabat adalah ritual lahiriah hukum Taurat. Ritual ini pun telah diakhiri, sebab semuanya adalah bagian dari bayang-bayang, lambang, dan tanda-tanda zaman lama, semuanya ini telah digenapi oleh Kristus sebagai realitas. Kita tidak lagi diharuskan memperhatikan ritual hukum Taurat. Karena itu, prinsip hukum Taurat dan ritual hukum Taurat telah tamat, tetapi perintah hukum Taurat, yang menuntut taraf moral yang tinggi, belum tamat. Sebaliknya, perintah ini telah ditingkatkan. Dengan melalui Kristus sebagai hayat kebangkitan dalam roh kita, kita dapat menggenapi taraf moralitas yang dituntut oleh hukum Taurat yang lebih tinggi dari Kerajaan Surga. Perkataan ini seharusnya membuat kita jelas tentang hukum Taurat menurut ketiga aspeknya; prinsip hukum Taurat, perintah hukum Taurat, dan ritual hukum Taurat.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 20

09 December 2017

Matius - Minggu 10 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:44-48
Doa baca: Mat. 5:48
Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.


Kini kita melihat hukum Taurat terakhir yang diubah oleh Tuhan, hukum Taurat mengenai musuh (ay. 43) . Dikatakan secara sah, hukum Taurat lama itu adil dan benar, sebab sesama yang baik patut mendapatkan kasih kita dan musuh patut kita benci. Jadi, mengasihi sesama dan membenci musuh itu benar dan adil. Tetapi Ayat 44 mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang meng-aniaya kamu.” Sekali lagi, ini adalah masalah yang menjamah diri manusia kita. Karena itu, perkara mengasihi musuh kita merupakan suatu ujian. Jika Anda membaca Matius 5, 6, dan 7, Anda akan nampak bahwa konstitusi surgawi ini tidak mengizinkan keluarnya manusia alamiah kita, bahkan seinci pun tidak. Sebaliknya, konstitusi surgawi membunuh setiap kuman dalam kita. Anda membenci musuh Anda, sebab ia tidak sesuai dengan pilihan Anda; Anda mengasihi sesama Anda yang baik, sebab ia sesuai dengan pilihan Anda. Tuhan mungkin bertanya kepada Anda, apakah Anda mengasihi sesama Anda yang menyulitkan? Boleh jadi Anda akan menjawab bahwa itu sangat sulit. Alasannya ialah karena mereka bertentangan dengan diri Anda dan perasaan alamiah Anda. Inilah suatu ujian untuk membuktikan apakah Anda hidup berdasarkan diri Anda atau berdasarkan Kristus. Kadang kala Kristus mungkin lebih mengasihi musuh Anda daripada sesama Anda dan Anda harus mengikuti Dia. Tetapi, ini bukan semata-mata perbuatan yang lahiriah.

Sebutan “anak-anak Bapamu” (ay. 45) adalah bukti kuat bahwa umat kerajaan yang mendengar dekrit Raja baru di atas gunung adalah kaum beriman Perjanjian Baru yang dilahirkan kembali. Sebagai anak-anak Bapa kita, kita harus memperlakukan orang yang jahat dan yang tidak benar sebagaimana kita memperlakukan orang yang baik dan yang benar (ayat 45), kita tidak hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi juga mengasihi orang yang tidak mengasihi kita (ayat 46), dan tidak hanya memberi salam kepada saudara kita, tetapi juga kepada orang lain (ayat 47).

Bagi umat kerajaan, menjadi sempurna seperti Bapa Surgawi mereka yang adalah sempurna (ay. 48), berarti mereka sempurna dalam kasih-Nya. Mereka adalah anak-anak Bapa, memiliki hayat dan sifat ilahi Bapa. Karena itu, mereka dapat sempurna sama seperti Bapa. Permintaan hukum Taurat baru kerajaan jauh lebih tinggi daripada permintaan hukum Taurat zaman lama. Permintaan yang lebih tinggi ini hanya dapat dipenuhi oleh hayat ilahi Bapa, bukan oleh hayat alamiah. Kerajaan Surga adalah permintaan yang tertinggi, dan hayat ilahi Bapa adalah suplai tertinggi untuk memenuhi permintaan itu. Permintaan dari hukum Taurat baru kerajaan dalam Matius 5 sampai 7 sebenarnya merupakan ekspresi dari hayat baru, hayat ilahi dalam umat kerajaan yang dilahirkan kembali. Permintaan ini membuka batin orang yang dilahirkan kembali, menunjukkan kepada mereka bahwa mereka mampu mencapai tingkat yang sedemikian tinggi dan memiliki kehidupan yang sedemikian tinggi.

Semua permintaan dari hukum Taurat yang telah diubah ini mewahyukan betapa besarnya kemampuan hayat ilahi bekerja di dalam kita. Hukum Taurat baru ini bukan semata-mata suatu permintaan, melainkan suatu wahyu, menampakkan kepada kita bahwa hayat ilahi ini bahkan dapat membuat kita sempurna sama seperti Bapa kita yang di surga yang adalah sempurna. Kita memiliki hayat yang sempurna ini di dalam kita. Kita mempunyai hayat dengan sifat ilahi sedemikian ini, sehingga dapat membuat kita sem-purna seperti Bapa kita yang di surga.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 19

08 December 2017

Matius - Minggu 10 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:37-43
Doa baca: Mat. 5:41
Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.


Kini kita membicarakan hukum Taurat ketiga yang diubah oleh Tuhan, hukum Taurat mengenai melawan orang yang jahat. Hukum Taurat baru bukan melawan orang yang jahat. Dalam ayat 39 Tuhan mengatakan bahwa siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Melakukan hal ini menunjukkan tidak adanya perlawanan. Jika seseorang mengingini baju Anda, berilah dia jubah Anda juga (ay. 40). Ini membuktikan bahwa Anda tidak melawan. Memberikan pipi yang lain kepada penampar, menyerahkan jubah kepada orang yang menginginkan baju kita, dan menempuh mil yang kedua bersama orang yang memaksa (ay. 41), membuktikan bahwa umat kerajaan memiliki kekuatan untuk menanggung derita dan tidak melawan, kekuatan untuk berjalan tidak dalam daging atau jiwa demi kepentingan mereka sendiri, tetapi dalam roh untuk Kerajaan.

Melawan dengan mata ganti mata dan gigi ganti gigi berarti Anda melampiaskan amarah Anda. Di sini Tuhan mengatakan bahwa kita tidak dapat memuaskan temperamen kita. Jangan melampiaskan “musang” temperamen kita, kita harus membunuhnya. Masalahnya bukan lawan Anda, melainkan temperamen Anda. Tuhan mengizinkan seseorang memaksa Anda berjalan sebagai pencobaan untuk menyingkapkan di mana Anda berada, untuk membuktikan bahwa “musang” temperamen Anda masih mendekam di dalam Anda. Kita sebagai manusia rohani, bahkan umat kerajaan, tetapi temperamen kita masih tersembunyi di dalam kita dan perlu disingkapkan. Mereka yang meminta Anda itu telah menyingkapkan “musang” kecil ini. Jika ada seseorang meminta baju Anda, Anda mungkin mengatakan, “Aku tidak berhutang apa-apa kepadamu! Mengapa engkau datang kepadaku?” Janganlah menyalahkan orang yang meminta, Tuhan telah mengutus-nya — bunuh saja “musang” temperamen Anda. Jangan marah-marah, katakanlah kepadanya, “Karena Anda menghendaki bajuku, aku akan memberikan mantelku juga.” Ini membuktikan bahwa temperamen Anda telah dibunuh. Seluruh umat kerajaan harus dapat mengatakan, “Tidak peduli betapa banyaknya tuduhan yang tidak benar yang Anda timpakan kepadaku, amarahku tidak terbangkitkan. Aku tetap mengasihimu dan aku mau membagikan segala milikku kepadamu. Jika Anda menghendaki bajuku, aku akan dengan rela memberimu mantelku juga.” Sikap umat kerajaan hendaklah selalu seperti ini.

Memberi kepada orang yang meminta dan tidak menolak orang yang mau meminjam (ay. 42) membuktikan bahwa umat kerajaan tidak mementingkan barang materi dan tidak dikuasai oleh barang itu. Namun, masalah yang sesungguhnya bukanlah kekayaan duniawi. Memberi kepada yang meminta atau yang ingin meminjam telah menjamah diri kita. Tuhan tidak berkata bahwa kita seharusnya tidak memiliki daya pembeda dan berlaku secara bodoh terhadap harta duniawi kita. Tuhan memberi tahu kita agar kita melampaui benda-benda materi maupun temperamen kita. Jangan sekali-kali kita terumbar dalam temperamen kita oleh perkara macam ini ataupun terjamah oleh benda-benda materi. Inilah sikap pemenang umat kerajaan. Ini bukan berarti bahwa kita terlalu royal atau tidak berhati-hati dalam mengatur keuangan. Sekalipun Anda mungkin sangat berhati-hati dalam cara menggunakan uang, tetapi ketika saat-saat yang begitu sulit menimpa Anda, seperti yang diumpamakan dalam ayat 42, Anda harus melampaui benda-benda materi dan temperamen Anda. Tidak ada satu permintaan yang dapat membangkitkan amarah Anda. Hukum Taurat lama tidak menyinggung amarah orang atau hati orang. Tetapi hukum Taurat baru, hukum Taurat yang telah diubah, menyentuh baik temperamen kita maupun hati kita.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 19

07 December 2017

Matius - Minggu 10 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:31-48
Doa baca: Mat. 5:37
Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.


Dalam berita ini kita akan membicarakan Matius 5:31-48 yang mencakup empat hukum Taurat. Keempat hukum Taurat dalam bagian ini, hukum Taurat tentang perceraian, sumpah, melawan orang yang jahat, dan mengasihi musuh kita, semuanya telah diubah. Marilah kita terlebih dulu melihat perubahan hukum Taurat mengenai perceraian. Menurut hukum Taurat lama, seseorang dapat menceraikan istrinya hanya dengan memberikan surat cerai (ay. 31). Hukum Taurat zaman lama tentang perceraian ditetapkan karena kekerasan hati manusia, bukan menurut rencana Allah sebermula (Mat. 19:7-8). Perintah baru Raja memulihkan perkawinan pada keadaan yang sebermula sebagaimana direncanakan oleh Allah (Mat. 19:4-6). Ikatan perkawinan hanya dapat diputuskan oleh kematian (Rm. 7:3) atau perzinaan. Karena itu, bercerai dengan alasan apa pun berarti berzina (Mat. 5:32).

Menurut firman Tuhan Yesus, alasan satu-satunya untuk bercerai ialah perzinaan. Hanya dua perkara dapat memutuskan tali perkawinan: kematian dari salah satu pihak atau perzinaan, percabulan. Jika satu pihak melakukan perzinaan, tali perkawinan putus. Inilah prinsipnya. Karena itu, Tuhan Yesus mengatakan bahwa hendaklah tidak ada perceraian, kecuali dalam hal perzinaan. Tetapi Anda jangan mengambil kesempatan ini sebagai alasan untuk kawin lagi hanya karena suatu perbuatan percabulan telah terjadi. Ini pun suatu perkara motivasi. Jika mungkin, pihak yang melukai hendaknya dimaafkan. Namun, jika pihak yang salah menolak untuk bertobat dan tetap hidup dalam dosa macam ini atau kawin dengan orang lain, masalahnya akan berbeda. Dalam masalah yang sedemikian ini, tali perkawinan itu putus dan pihak yang lainnya bebas.

Dalam ayat 34 dan 36 kita nampak hukum Taurat baru Tuhan tentang sumpah: jangan sekali-kali bersumpah. Hukum Taurat baru kerajaan melarang umat kerajaan bersumpah dengan cara apa pun, demi surga, demi bumi, demi Yerusalem, atau demi kepala mereka, karena langit, bumi, Yerusalem, dan kepala mereka tidak berada di bawah kendali mereka, melainkan di bawah kendali Allah. Kita tidak boleh bersumpah baik demi langit maupun demi bumi, sebab semuanya bukan milik kita. Demikian pula, kita tidak boleh bersumpah demi Yerusalem, sebab sebagai kota Sang Raja Agung, itu bukan wilayah kita. Kita bahkan tidak boleh bersumpah demi kepala kita, sebab kita “tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun”. Semuanya ini — langit, bumi, Yerusalem, dan bahkan rambut kepala kita — bukan berada di bawah kendali kita. Kita bukan apa-apa dan kita tidak mengendalikan apa pun.

Perkataan umat kerajaan harus sederhana dan benar: Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak. Umat kerajaan tidak seharusnya mencoba meyakinkan orang dengan banyak bicara. Mereka yang jujur tidak banyak bicara. Tetapi waspadalah terhadap orang yang banyak bicara; boleh jadi mereka penipu. Penipu itu sangat banyak bicara, selalu memberi alasan dan argumentasi untuk perkara-perkara. Tetapi seorang yang jujur selalu singkat. Lagi pula, kita harus menyadari bahwa banyak bicara dalam hadirat Allah tidak membuat Tuhan senang. Ketika kita datang kepada Tuhan, kita harus datang kepada-Nya dalam kejujuran, mengatakan sesuatu kepada-Nya secara sederhana dan singkat.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 19